Trump Ungkap Iran Sepakat Tak Bangun Senjata Nuklir, Ini Syarat yang Diajukan Teheran

Washington DC, Arahnegeri – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah memperoleh jaminan dari Iran bahwa negara tersebut tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan di tengah berlanjutnya negosiasi antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran serta sejumlah isu strategis di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara yang berlangsung Sabtu (30/5/2026) malam waktu setempat, Trump menegaskan bahwa pencegahan pengembangan senjata nuklir menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dengan Iran.
“Satu-satunya jaminan yang harus saya dapatkan adalah tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah mengirimkan proposal baru kepada Iran. Proposal itu disebut memuat persyaratan yang lebih ketat dibandingkan rancangan sebelumnya, meskipun rincian isi dokumen tersebut belum diungkap ke publik.
Menurut laporan AFP yang dikutip Minggu (31/5/2026), Trump juga menempatkan keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz sebagai salah satu prioritas dalam pembahasan dengan Iran. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia yang selama ini kerap menjadi titik ketegangan di kawasan Teluk.
Selain itu, Trump disebut ingin mempertegas sejumlah poin terkait pengelolaan material nuklir Iran dalam kerangka kesepakatan yang sedang dinegosiasikan.
Namun, perubahan usulan dari pihak Amerika Serikat diperkirakan dapat memperpanjang proses perundingan yang hingga kini masih berlangsung. Sejumlah perbedaan pandangan antara kedua negara juga masih menjadi hambatan dalam mencapai kesepakatan final.
Di sisi lain, pemerintah Iran menilai pembahasan tidak dapat dilanjutkan secara substansial sebelum Amerika Serikat mencairkan sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan. Teheran meminta pencairan dana sebesar 12 miliar dolar AS sebagai langkah awal sebelum memasuki tahap negosiasi lanjutan mengenai program nuklir.
Iran juga menolak pernyataan Trump yang menyebut uranium hasil pengayaan milik Teheran akan dihancurkan. Pemerintah Iran menilai pernyataan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dalam pembahasan yang sedang berlangsung.
Sebelumnya, media Iran Tasnim melaporkan bahwa Teheran mengajukan skema pencairan aset beku senilai total 24 miliar dolar AS dalam kerangka kesepakatan potensial dengan Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, 12 miliar dolar AS diminta dicairkan pada tahap awal, sementara 12 miliar dolar AS sisanya diharapkan dapat ditransfer dalam waktu 60 hari setelah penandatanganan perjanjian.
Dalam upaya mempercepat proses tersebut, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammed Bagher Qalibaf, melakukan kunjungan ke Qatar pada akhir Mei 2026. Kunjungan itu bertujuan membahas mekanisme pencairan dana Iran yang masih dibekukan serta mengatasi berbagai hambatan teknis dalam proses pelaksanaannya.
Sumber yang dikutip Tasnim menyebutkan bahwa Iran ingin memastikan pencairan dana berjalan lancar dan tidak mengalami kendala seperti yang pernah terjadi pada proses pelepasan aset Iran di Korea Selatan maupun Qatar pada masa lalu.
Meski masih terdapat sejumlah perbedaan pandangan, sumber tersebut menyebut pembicaraan yang berlangsung di Qatar berjalan positif dan memberikan kemajuan bagi proses negosiasi yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.
Hingga saat ini, kedua negara masih terus melanjutkan komunikasi diplomatik guna mencari titik temu terkait program nuklir Iran, pencairan aset beku, serta stabilitas kawasan Timur Tengah.










