Wamenaker Afriansyah Noor Beri Kuliah Umum di Unbari, Soroti Tantangan Gen Z di Era AI

Jambi — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari (Unbari), Jambi, sabtu (12/09/2026). Afriansyah membahas peluang dan tantangan generasi muda dalam menghadapi bonus demografi serta perubahan dunia kerja.
Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Generasi Muda dan Bonus Demografi: Menjemput Peluang di Era Transformasi Dunia Kerja.”
Di hadapan mahasiswa, Afriansyah memaparkan sejumlah persoalan ketenagakerjaan nasional, mulai dari tingkat pendidikan angkatan kerja, kondisi pemuda yang tidak bekerja maupun mengikuti pendidikan dan pelatihan, hingga perubahan dunia kerja akibat perkembangan teknologi.
Afriansyah menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026 menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang dengan tingkat pengangguran sebesar 4,64 persen.
Ia juga menyampaikan bahwa sekitar 51 persen angkatan kerja Indonesia masih berpendidikan SMA sederajat ke bawah.
Selain itu, sekitar 19,44 persen pemuda berusia 15–24 tahun berada dalam kondisi Not in Employment, Education, or Training (NEET), yakni tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan.
Menurut Afriansyah, kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu dihadapi generasi muda di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja.
Wamenaker Dorong Gen Z Melek AI
Dalam kuliah umum tersebut, Afriansyah turut menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence(AI), otomatisasi, teknologi digital, serta munculnya pekerjaan yang berkaitan dengan ekonomi hijau (green job).
Ia mengingatkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas.
“Kita harus kreatif dan melek terhadap AI. Jadikan teknologi AI sebagai alat untuk menggandakan produktivitas dari pekerjaan yang kita lakukan,” ujar Afriansyah.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mempersiapkan diri sebagai pencari kerja (job seeker), tetapi mulai membangun kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja (job creator).
“Jangan lagi bertanya, ‘di mana saya akan bekerja?’, tetapi tanyakan pada diri sendiri, ‘kompetensi apa yang saya miliki saat ini untuk menyelesaikan masalah dan menciptakan peluang kerja di masa depan?’” tuturnya.
Soroti Kesesuaian Pendidikan dengan Dunia Kerja
Afriansyah juga menekankan pentingnya keterhubungan antara dunia pendidikan, industri, dan dunia kerja.
Menurutnya, kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja atau mismatch masih menjadi tantangan dalam ketenagakerjaan.
Karena itu, ia mendorong adanya link and match antara perguruan tinggi dengan dunia industri agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Dalam kesempatan tersebut, Afriansyah juga menyinggung perkembangan perguruan tinggi swasta, termasuk Unbari, yang menurutnya perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan dan akreditasi.
Kuliah umum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan gambaran mengenai perubahan dunia kerja sekaligus tantangan yang akan dihadapi generasi muda di tengah bonus demografi dan perkembangan teknologi.










