Revitalisasi KCBN Muaro Jambi Telan Anggaran Rp180 Miliar, Sejumlah Persoalan Kawasan Masih Menjadi Sorotan

Muaro Jambi – Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan terus mempercepat revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi. Program revitalisasi yang menelan anggaran sekitar Rp180 miliar itu mencakup pembangunan Museum Sriwijaya Dharmakirti, pemugaran sejumlah struktur candi, penataan kawasan, serta penguatan fungsi pelestarian menuju pengusulan Muaro Jambi sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan revitalisasi Muaro Jambi menjadi salah satu prioritas pemerintah. Menurutnya, pembangunan museum merupakan bagian dari upaya penyelesaian revitalisasi kawasan cagar budaya tersebut.
“Kami akan fokus pada penyelesaian revitalisasi cagar budaya di Jambi, termasuk pembangunan museumnya. Mudah-mudahan bisa kami tuntaskan tahun ini,” kata Fadli Zon.
Fadli menyebut revitalisasi tidak hanya ditujukan untuk melestarikan warisan budaya, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata yang diharapkan berdampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
“Muaro Jambi akan menjadi satu situs yang terkenal, maka semakin banyak didatangi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menjelaskan revitalisasi KCBN Muaro Jambi dilakukan melalui dua fokus utama, yakni pembangunan fisik serta penggalian sejarah dan peradaban masa lampau.
Menurut Restu, pembangunan fisik meliputi pemugaran Candi Kotomahligai, Candi Parit Duku, Menapo Alun-alun, dan Candi Sialang. Selain itu dilakukan optimalisasi pada kawasan Candi Gumpung, Kedaton, dan Candi Kembar Batu, disertai pembangunan Museum Cagar Budaya Muaro Jambi sebagai pusat penyimpanan artefak sejarah. Ia juga mengatakan revitalisasi dilakukan dengan melibatkan masyarakat di delapan desa sekitar kawasan sebagai bagian dari pemberdayaan berbasis pelestarian budaya.
Di tengah pelaksanaan revitalisasi tersebut, sejumlah persoalan di kawasan Muaro Jambi masih menjadi perhatian pemerintah.
Saat meresmikan Museum Sriwijaya Dharmakirti pada Juli 2026, Fadli Zon secara terbuka menyoroti keberadaan stockpile batu bara yang berada di sekitar kawasan cagar budaya. Menurutnya, aktivitas tersebut akan dievaluasi apabila terbukti bertentangan dengan ketentuan dan mengganggu kelestarian kawasan.
“Kalau memang melanggar aturan dan mengganggu kawasan cagar budaya, tentu akan dievaluasi, bahkan izinnya bisa dicabut,” kata Fadli Zon dalam kunjungannya ke Muaro Jambi.
Persoalan kawasan penyangga sebenarnya telah menjadi perhatian sejak awal pelaksanaan revitalisasi. Pada 2024, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Agus Widiatmoko, menjelaskan bahwa revitalisasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan museum, tetapi juga penataan lingkungan di sejumlah titik kawasan cagar budaya.
“Selain museum, revitalisasi juga menyasar penataan lingkungan. Ada lima lokasi yang akan ditata, yakni Candi Koto Mahligai, Candi Kedaton, Candi Parit Duku, Candi Gedong, dan Candi Astano,” ujar Agus Widiatmoko.
Agus juga menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan kawasan museum seluas sekitar 25 hektare yang akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung pendidikan dan kebudayaan.
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris menyatakan revitalisasi masih menghadapi pekerjaan besar mengingat sebagian besar struktur candi belum dipugar.
“Dari sekitar 115 candi yang terdata, baru 12 candi yang telah dipugar,” kata Al Haris saat mendampingi Menteri Kebudayaan meninjau kawasan Muaro Jambi.
Ia menyebut Pemerintah Provinsi Jambi mendukung percepatan revitalisasi karena kawasan tersebut sedang diusulkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Revitalisasi KCBN Muaro Jambi menjadi salah satu proyek pelestarian budaya terbesar yang sedang dijalankan pemerintah. Selain pembangunan museum dan pemugaran candi, pemerintah juga menargetkan penataan kawasan secara menyeluruh dengan tetap menjaga keaslian situs dan ekosistem budaya di sekitarnya.










