Gaya Komunikasi Al Haris: Membuat Gubernur Terasa Dekar Dengan Warga Kenapa?

Jambi — Gaya komunikasi Gubernur Jambi Al Haris memiliki satu ciri yang cukup mudah dikenali: ia cenderung menggunakan bahasa percakapan sehari-hari ketika menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Pilihan bahasa tersebut terlihat dari sejumlah pernyataan Al Haris yang terdokumentasi media maupun penelitian mengenai komunikasi politiknya. Ia tidak selalu menggunakan istilah teknokratis atau bahasa birokrasi ketika menjelaskan program dan persoalan pemerintahan.
Dalam penelitian Dedi Saputra dari Universitas Paramadina mengenai strategi komunikasi politik Al Haris-Abdullah Sani pada Pilgub Jambi 2020, ditemukan bahwa penyampaian program diarahkan menggunakan bahasa dan logika yang sederhana agar mudah dipahami masyarakat.
Dalam penelitian tersebut, Al Haris juga menjelaskan bahwa penyampaian program pemerintah diupayakan dengan cara yang sederhana sehingga masyarakat dapat segera memahami informasi yang diberikan.
Pola itu menjadi penting karena bahasa pemerintahan pada umumnya memiliki istilah yang tidak selalu akrab bagi masyarakat. Kata-kata seperti implementasi, optimalisasi, akselerasi, sinergi atau transformasi lebih banyak digunakan dalam komunikasi birokrasi.
Al Haris justru cukup sering menggunakan kata-kata yang lebih dekat dengan percakapan biasa.
Dalam salah satu pesannya kepada kepala desa, misalnya, ia menggunakan kalimat:
“Masyarakat yang tidak memilih kita kemarin itu adalah masyarakat kita, itu warga kita di desa, dekati mereka, rangkul mereka.”
Pilihan kata seperti “kita”, “warga kita”, “dekati” dan “rangkul” merupakan bahasa percakapan yang relatif sederhana. Pesan politik dan pemerintahan disampaikan tanpa banyak istilah teknis.
Pola serupa muncul dalam pernyataan Al Haris lainnya. Ia menggunakan ungkapan “merangkul bukan memukul”ketika menjelaskan pendekatan yang menurutnya perlu digunakan dalam pemerintahan.
Bahasa yang tidak membangun jarak
Dalam komunikasi publik, pilihan kata ikut menentukan bagaimana seorang pejabat dipersepsikan.
Bahasa yang terlalu formal dapat menciptakan jarak antara pejabat dengan masyarakat. Sebaliknya, bahasa sehari-hari membuat pesan lebih menyerupai percakapan dan lebih mudah diterima oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pemerintahan.
Penelitian Universitas Jambi mengenai strategi komunikasi politik Al Haris-Abdullah Sani pada Pilgub 2020 menunjukkan bahwa strategi komunikasi mereka menggunakan komunikasi langsung, termasuk door to door, kegiatan keagamaan dan komunikasi dengan tokoh agama. Penelitian tersebut juga mencatat kemampuan berbicara sebagai salah satu unsur dalam strategi komunikasi politik pasangan tersebut.
Dalam penelitian yang lebih baru mengenai kampanye digital Al Haris-Abdullah Sani pada Pilkada 2024, penggunaan bahasa komunikatif dan personalisasi pesan juga ditemukan sebagai bagian dari strategi komunikasi. Penelitian itu menyebut konten yang menampilkan aktivitas keseharian kandidat serta bahasa komunikatif digunakan untuk membangun kedekatan emosional dengan pemilih.
Dengan demikian, penggunaan bahasa sederhana bukan hanya terlihat dari beberapa kutipan pernyataan Al Haris, tetapi juga muncul dalam penelitian yang menganalisis strategi komunikasinya.
“Kita” lebih sering daripada bahasa pejabat
Salah satu pola yang menarik adalah penggunaan kata “kita”.
Dalam komunikasi politik, kata tersebut dapat menempatkan pembicara dan orang yang diajak bicara dalam satu kelompok. Al Haris beberapa kali menggunakan konstruksi seperti “masyarakat kita”, “warga kita” dan “kita rangkul”.
Pilihan tersebut berbeda dengan pola komunikasi yang sepenuhnya menempatkan pemerintah sebagai pihak yang memberikan instruksi kepada masyarakat.
Al Haris juga menggunakan kata-kata yang bersifat mengajak, seperti “ajak”, “rangkul”, “dekati” dan “menyatu”.
Misalnya, ketika berbicara mengenai pemerintahan setelah kontestasi politik, ia mengatakan:
“Merangkul lebih baik daripada terkotak-kotak, menyatu lebih baik daripada terbelah-belah.”
Bahasa yang digunakan tidak rumit. Pesannya disampaikan melalui ungkapan yang umum digunakan dalam percakapan masyarakat.










