Miris! Bentuk Satgas Antrean BBM, SPBU Bagan Pete Yang Diduga Milik Walikota Jambi Dipenuhi Pelangsir

Jambi – Wali Kota Jambi, Maulana, berulang kali menyatakan komitmennya untuk memberantas praktik pelangsiran BBM subsidi di SPBU.
Namun, realitas di lapangan justru memperlihatkan situasi yang kontras, khususnya di SPBU kawasan Bagan Pete, yang hingga kini dipenuhi antrean kendaraan dan dugaan aktivitas pelangsir solar subsidi.
Hasil investigasi lapangan menunjukkan antrean kendaraan di SPBU tersebut mengular hingga ke bahu jalan dan depan ruko-ruko warga. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu kemacetan lalu lintas.
Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan identitasnya menyampaikan keresahan yang dialaminya.
“Hal ini sangat meresahkan, karena antrean sering sampai ke depan ruko-ruko,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kemacetan di kawasan tersebut menjadi fenomena yang berulang.
“Karena ramainya antrean, sering terjadi kemacetan di wilayah sekitar SPBU,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan seorang konsumen BBM di lokasi tersebut.
“Di SPBU ini sering terjadi kehabisan solar karena ramainya pelangsir,” ungkapnya.

Sumber lain mengungkapkan dugaan pola pelangsiran yang semakin kompleks.
“Mereka punya banyak pola. Ada yang memiliki banyak barcode, sehingga bisa mengisi berulang kali dengan barcode yang berbeda,” ujarnya.
Pada Oktober 2025, Maulana secara tegas menyatakan bahwa pelangsir solar dan penyalahgunaan barcode subsidi akan ditindak.
Ia bahkan membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk mengurai antrean BBM dan menertibkan pelangsiran di SPBU Kota Jambi.
“Kalau ada pelangsiran atau penyalahgunaan barcode subsidi, langsung tindak di tempat,” tegas Maulana.

Selain itu, pemerintah kota juga membatasi pengisian solar kendaraan roda enam ke tujuh SPBU tertentu, salah satunya SPBU Bagan Pete.
Langkah tersebut disebut sebagai upaya mengatasi kemacetan dan penyalahgunaan BBM subsidi yang mengganggu ketertiban umum.
Ironisnya, SPBU Bagan Pete yang justru masuk dalam daftar SPBU yang ditetapkan oleh kebijakan Wali Kota menjadi salah satu titik antrean terpanjang dan diduga rawan pelangsiran.
Di sinilah kontradiksi mulai terlihat, di satu sisi Wali Kota Jambi mengeluarkan ultimatum keras terhadap pelangsir dan penyalahgunaan barcode. Di sisi lain, SPBU yang berada dalam lingkup kebijakan tersebut justru dipenuhi praktik yang diduga bertentangan dengan semangat kebijakan itu sendiri.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik,
Apakah kebijakan penertiban pelangsir benar-benar berjalan, atau hanya berhenti pada level retorika?
Di tengah situasi tersebut, muncul informasi yang menyebutkan bahwa SPBU Bagan Pete diduga memiliki keterkaitan dengan Wali Kota Jambi Maulana.
Hal itu terlihat saat perayaan HUT SPBU Bagan Pete yang pertama. Pak Maulana hadir turut ikut merayakan HUT SPBU Bagan Pete tersebut.
“Insya allah, SPBU Bagan Pete terus berbenah, visi dan misi perusahaan telah diperbaharui, budaya perusahaan telah dijadikan budaya bekerja bagi perwira untuk dapat menjadikan motivasi agar terus berinovasi dan bekerja keras” ujar Walikota Jambi Maulana dikutip dari media beritajambi.co.
Dilangsir dari media beritajambi.co disebutkan juga bahwa Pak Maulana merupakan owner daripada SPBU tersebut.

Meski demikian, jika dugaan tersebut benar, maka persoalan ini tidak lagi sekadar soal pelangsir, melainkan berpotensi menyentuh isu yang lebih serius, konflik kepentingan dalam tata kelola distribusi BBM subsidi.
Kebijakan penertiban pelangsir yang dicanangkan Wali Kota Jambi sejak 2025 sejatinya bertujuan mulia, memastikan BBM subsidi tepat sasaran dan tidak mengganggu ketertiban kota.
“Kalau ada pelangsiran atau penyalahgunaan barcode subsidi, langsung tindak di tempat,” tegas Maulana dikutip dari media jambiupdate.co.

Namun, fakta lapangan menunjukkan bahwa praktik pelangsiran masih berlangsung, bahkan di titik yang berada dalam radius kebijakan pemerintah kota.
Jika kondisi ini terus terjadi, maka publik berhak mempertanyakan, apakah negara benar-benar hadir dalam mengawasi distribusi BBM subsidi, atau justru kalah di hadapan jaringan pelangsir?














